UMKM Rajungan di Tongas Banjir Order Jelang Imlek 2026

Probolinggo – Jelang Imlek 2577 Kongzili, UMKM Pengolahan Rajungan Tongas Banjir Order: Omzet Meroket hingga Rp500 Juta Per Hari, Stimulus Ekonomi Pesisir Melejit
Tongas, Probolinggo
Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada pertengahan Februari 2026 memberikan stimulus ekonomi signifikan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengolahan rajungan di Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Aktivitas di sentra pengupasan rajungan di Desa Tongas Wetan meningkat pesat, dengan pesanan yang membludak hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Lonjakan permintaan ini tidak hanya mendongkrak omzet harian hingga Rp500 juta, tetapi juga memperkuat keterkaitan ekonomi yang kuat antara komoditas laut dan pendapatan masyarakat pesisir di wilayah sekitar Tongas.
Menurut laporan lapangan dari berbagai media Jatim, sentra pengolahan rajungan di Dusun Medoan (atau Me’doan/Medokan), Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, menjadi salah satu yang paling ramai. Para pekerja — mayoritas ibu rumah tangga nelayan — bekerja tanpa henti dari pagi hingga malam. Proses pengolahan dimulai dengan perebusan rajungan hingga matang sempurna, kemudian pengupasan cangkang, pemilahan daging sesuai kualitas, hingga pengemasan untuk dikirim ke pabrik ekspor maupun pasar domestik.
Salah seorang pelaku usaha, Muhammad Ridwan, pemilik UMKM pengolahan rajungan di Dusun Me’doan, mengaku produksi harian naik drastis. “Dengan jumlah produksi yang bisa sampai 5 kuintal, dalam sehari omset produksi rajungan menyentuh Rp100 juta lebih. Kadang bisa sampai Rp500 juta,” ujar Ridwan. Ia menambahkan bahwa harga daging rajungan kualitas ekspor mencapai Rp350.000 hingga Rp400.000 per kilogram, naik sekitar 20 persen menjelang Imlek.
Senada dengan itu, pengepul Misri dari Desa Tongas Wetan menyatakan, “Lonjakan pesanan mulai dirasakan sejak sebulan terakhir. Pesanan dari dalam negeri maupun luar negeri naik drastis hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.” Permintaan datang tidak hanya dari restoran dan keluarga Tionghoa di Indonesia, melainkan juga pasar ekspor ke Cina, Amerika Serikat, dan Kanada.
Bahan baku rajungan didatangkan dari nelayan lokal di Probolinggo, Pasuruan (Lekok), Banyuwangi, hingga Madura. Namun, cuaca buruk beberapa waktu lalu sempat membuat pasokan terbatas, meski permintaan tetap tinggi. “Untuk memperoleh bahan baku rajungan, kami membeli dari nelayan Probolinggo, Pasuruan, Banyuwangi hingga Madura. Namun karena cuaca buruk, rajungan dari nelayan sulit didapat,” keluh Ridwan.
Fenomena ini menunjukkan betapa sektor perikanan rajungan tetap menjadi penopang ekonomi musiman yang handal bagi masyarakat sekitar Tongas. Puluhan ibu rumah tangga diberdayakan sebagai pekerja pengupas, dengan rata-rata penghasilan Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan tergantung volume pesanan. Momentum Imlek 2577 Kongzili/2026 ini menjadi “panen berkah” bagi ratusan UMKM pengolahan rajungan di wilayah pesisir Probolinggo.
Daging rajungan khas Tongas yang segar dan berkualitas tinggi memang selalu menjadi menu wajib hidangan Imlek. Selain diserap pasar lokal, sebagian besar produk olahan langsung diekspor, sehingga memberikan multiplier effect yang luas bagi perekonomian daerah.
Kepala Desa Tongas Wetan dan Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo sebelumnya juga mencatat bahwa lonjakan permintaan Imlek selalu menjadi angin segar bagi nelayan dan pengolah rajungan. Dengan adanya stimulus ini, pelaku UMKM optimistis dapat terus meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jangkauan pasar di masa mendatang.