Jejak Masa Lalu

Sejarah Wringinanom.

Menapak tilas perjalanan panjang terbentuknya entitas masyarakat, hingga mencatat lembaran para pemimpin yang telah mendedikasikan dharma baktinya demi kemajuan desa.

auto_stories

Babad Asal-Usul Desa

Desa Wringinanom memiliki sebuah legenda yang hingga kini masih dipercaya dan diceritakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Menurut cerita para orang tua terdahulu, pada zaman dulu di daerah yang sekarang bernama Desa Wringinanom terdapat sebuah pohon beringin yang sangat besar, rindang, dan angker. Pohon beringin ini dipercaya dijaga oleh makhluk halus yang suka mengganggu orang-orang di sekitarnya.

Karena sering mengganggu warga, masyarakat merasa khawatir dan tidak aman. Oleh karena itu, mereka meminta bantuan kepada Eyang Simah untuk menebang pohon beringin tersebut. Penebangan pohon beringin oleh Eyang Simah dilakukan dengan cara yang sangat unik dan tidak biasa. Beliau tidak menggunakan kapak atau gergaji seperti orang kebanyakan. Setiap malam Jumat, Eyang Simah hanya memotong sedikit demi sedikit bagian pohon tersebut. Proses ini hanya bisa dilakukan oleh Eyang Simah, karena orang biasa tidak akan mampu melakukannya.

Akhirnya, pohon beringin yang masih sangat muda itu tumbang. Saat ditebang, pohon tersebut mengeluarkan cairan seperti darah, mirip darah manusia (disebut darah Marusia). Setelah pohon tumbang, daerah sekitar pohon beringin muda tersebut kemudian dinamakan Desa Wringin (Beringin) Anom (Muda), yang sekarang dikenal sebagai Desa Wringinanom.

Asal-usul nama Desa Wringinanom berawal dari sebuah pohon beringin muda yang tumbuh di wilayah Sumur Santo pada masa lalu. Pohon beringin ini konon sangat rindang dan dianggap angker oleh masyarakat sekitar.

Menurut cerita yang beredar, pohon beringin tersebut dijaga atau dihuni oleh makhluk halus yang kerap mengganggu penduduk yang berada di sekitarnya. Karena rasa khawatir akan terus diganggu, masyarakat akhirnya meminta Eyang Simah untuk menebang pohon tersebut. Proses penebangan dilakukan secara perlahan setiap malam Jumat. Eyang Simah memotong pohon beringin itu sedikit demi sedikit tanpa menggunakan alat-alat biasa. Hanya beliaulah yang mampu melakukan cara tersebut.

Ketika pohon beringin muda itu akhirnya tumbang, ia mengeluarkan cairan kemerahan yang mirip dengan darah manusia. Peristiwa ini semakin memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan pohon tersebut. Sejak saat itu, daerah di sekitar pohon beringin muda yang telah ditebang tersebut diberi nama Desa Wringin Anom (Beringin Muda), yang kelak menjadi Desa Wringinanom seperti yang kita kenal sekarang.